BACAAKU.COM – Banjir mengancam hasil panen petani di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Genangan air merendam ratusan hektare sawah ketika tanaman padi memasuki masa panen. Untuk mengurangi risiko gagal panen, petani mempercepat pemotongan padi yang sudah matang.
Di Desa Krueng Seupeng, Kabupaten Aceh Utara, petani memanen padi yang terendam banjir pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Hujan lebat yang bertepatan dengan pasang purnama memicu genangan di kawasan persawahan tersebut.
Petani memilih menyelamatkan padi lebih awal daripada menunggu air surut. Mereka khawatir genangan yang terus bertahan akan merusak tanaman dan mengurangi hasil panen.
Petani Aceh Tamiang Panen Menggunakan Sabit dan Perahu
Kondisi serupa terjadi di Desa Teluk Halban, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang. Petani terpaksa memanen padi secara manual setelah tanggul sungai di Desa Marlempang jebol dan mengalirkan air ke permukiman serta lahan pertanian.
Sugiono, salah seorang petani setempat, mengatakan sawah telah terendam lebih dari sepekan. Pada awal banjir, ketinggian air mencapai lebih dari satu meter sehingga petani belum bisa memanen padi.
Petani baru mulai memanen secara bertahap pada hari kesembilan. Namun, sebagian batang padi mulai membusuk dan bulirnya berguguran akibat terlalu lama terendam air.
Mereka menggunakan sabit untuk memotong padi. Selanjutnya, petani mengangkut hasil panen menggunakan perahu karet atau perahu berbahan terpal. Mesin pemanen gabungan tidak dapat beroperasi di tengah genangan.
Biaya Panen dan Tenaga Kerja Menjadi Kendala
Banjir juga menyulitkan petani mencari tenaga kerja. Sebagian pekerja enggan masuk ke sawah karena medan yang berat serta air yang berbau dan menimbulkan rasa gatal.
Dalam kondisi normal, biaya panen mencapai Rp150 ribu per rantai. Namun, petani dan pekerja kini memilih sistem bagi hasil dengan pembagian masing-masing 50 persen.
Cara tersebut menjadi pilihan agar padi yang tersisa tidak membusuk tanpa sempat dipanen. Keterbatasan tenaga kerja dan peralatan membuat proses panen diperkirakan berlangsung selama beberapa pekan.
Sekitar 70 Persen Sawah Teluk Halban Terdampak
Datok Penghulu Desa Teluk Halban, Abdullah Boyak, menyebut luas sawah produktif di desanya mencapai 62 hektare. Lahan tersebut biasanya menjalani dua kali musim tanam dalam setahun.
Sekitar 70 persen lahan persawahan terdampak banjir ketika padi hampir memasuki masa panen. Genangan memang mulai surut, tetapi sebagian besar sawah masih terendam karena air belum mengalir keluar secara optimal.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Aceh Tamiang, Irwan Hadi, membenarkan banjir turut berdampak pada ratusan hektare sawah di wilayah pesisir. Pihaknya masih mengumpulkan data untuk memastikan luas lahan yang terdampak.
Petani Berharap Tanggul Segera Diperbaiki
Petani berharap pemerintah segera memperbaiki tanggul sungai yang jebol secara permanen. Mereka juga membutuhkan dukungan peralatan panen yang dapat membantu menyelamatkan hasil pertanian ketika banjir melanda.
Banjir menjelang masa panen bukan hanya mengancam produksi padi, tetapi juga pendapatan keluarga petani. Karena itu, perbaikan infrastruktur pengendali banjir dan dukungan pertanian menjadi penting untuk mengurangi risiko kerugian pada musim berikutnya.










