BACAAKU.COM – Makanan ultra proses semakin mudah kita temukan sehari-hari. Roti kemasan, sereal manis, mi instan, makanan ringan, dan minuman manis menjadi pilihan banyak orang. Produk tersebut menawarkan kepraktisan dan mudah kita dapatkan.
Namun, konsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan perlu mendapat perhatian. WHO menyebut perubahan pola makan dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit tidak menular.
Apa Itu Makanan Ultra-Proses?
Makanan ultra-proses melewati berbagai tahapan pengolahan di industri. Produsen juga menggunakan bahan tambahan atau formulasi tertentu dalam pembuatannya.
Contohnya meliputi minuman berpemanis, makanan ringan kemasan, sereal sarapan manis, mi instan, daging olahan, dan makanan siap santap tertentu.
Meski begitu, tidak semua makanan olahan masuk kategori ultra-proses. Proses sederhana seperti memasak, membekukan, atau mengawetkan makanan tidak otomatis membuatnya menjadi makanan ultra-proses.
Apa Dampaknya bagi Tubuh?
Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi dan berbagai masalah kesehatan.
Salah satu dampaknya berkaitan dengan kenaikan berat badan dan obesitas. Penelitian IARC melibatkan hampir 350.000 orang dari sembilan negara Eropa. Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses dan kenaikan berat badan.
Konsumsi makanan ultra-proses juga mendapat perhatian terkait kesehatan jantung. Penelitian lain melibatkan hampir 430.000 peserta. Penelitian tersebut menemukan hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses dan risiko kematian yang lebih tinggi.
Beberapa penelitian IARC juga mengaitkan konsumsi makanan ultra-proses dengan multimorbiditas. Istilah tersebut berarti seseorang mengalami beberapa penyakit kronis secara bersamaan. Kondisi tersebut dapat mencakup kanker dan penyakit kardiometabolik.
Mengapa Konsumsinya Perlu Dibatasi?
Sejumlah makanan ultra-proses mengandung gula, garam, atau natrium dalam jumlah tinggi. Produk tertentu juga mengandung lemak dalam jumlah tinggi.
Di sisi lain, beberapa produk tersebut memiliki kandungan serat yang lebih rendah dibandingkan makanan utuh.
WHO menganjurkan masyarakat mengonsumsi lebih banyak makanan yang tidak diproses atau hanya mengalami sedikit proses. WHO juga menganjurkan masyarakat membatasi gula bebas, natrium, dan lemak tidak sehat.
Di Indonesia, konsumsi produk praktis juga semakin mudah kita temukan. Minuman berpemanis, makanan ringan, dan mi instan tersedia di banyak tempat. Harga yang terjangkau serta pemasaran yang luas turut mendorong konsumsi produk tersebut.
Tidak Perlu Berhenti Total
Masyarakat tidak harus menghilangkan seluruh makanan ultra-proses dari menu sehari-hari. Langkah yang lebih realistis adalah mengurangi jumlah dan frekuensi konsumsinya.
Sebagai gantinya, kita dapat memperbanyak makanan yang lebih minim proses.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
- Perbanyak konsumsi sayur dan buah.
- Pilih ikan, telur, tahu, dan tempe sebagai sumber protein.
- Masak makanan sendiri jika memiliki waktu.
- Batasi minuman dengan tambahan gula.
- Kurangi makanan ringan kemasan.
- Batasi makanan dengan kandungan garam yang tinggi.
- Periksa informasi nilai gizi sebelum membeli makanan kemasan.
- Jangan menjadikan makanan ultra-proses sebagai menu utama setiap hari.
Kesimpulan
Makanan ultra-proses memang menawarkan kepraktisan. Namun, konsumsi yang terlalu sering perlu kita perhatikan.
Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses dan berbagai risiko kesehatan. Risiko tersebut antara lain obesitas dan penyakit kronis.
Karena itu, kita tidak perlu takut terhadap satu jenis makanan. Yang lebih penting adalah membangun pola makan seimbang.
Perbanyak makanan utuh dan makanan yang minim proses. Pada saat yang sama, batasi makanan ultra-proses yang tinggi gula, garam, dan lemak.










