BACAAKU.COM – Smartphone Android bekas ternyata masih menyimpan potensi besar di dunia teknologi. Tim peneliti dari University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat, mengembangkan PhoneBot, robot berkaki dua yang memanfaatkan ponsel pintar sebagai pusat pemrosesan dan pengendali gerakan.
Inovasi ini menawarkan pendekatan berbeda dalam pengembangan robot humanoid. Alih-alih menggunakan komputer mahal dan sensor khusus, PhoneBot memanfaatkan kamera, prosesor, serta sensor gerak yang tersedia pada smartphone Android.
Penelitian PhoneBot muncul melalui repositori ilmiah arXiv pada Oktober 2026. Tim pengembang merancang robot ini untuk mendukung pendidikan, penelitian, dan eksperimen robotika dengan biaya perangkat keras yang lebih terjangkau.
PhoneBot Mampu Berjalan dan Mengikuti Manusia
PhoneBot memiliki tinggi sekitar 48 sentimeter dengan berat sekitar 1,8 kilogram, termasuk smartphone. Robot ini menggunakan 13 motor untuk menggerakkan kedua kaki dan mengatur posisi tubuh bagian atas.
Kemampuan PhoneBot cukup menarik. Robot tersebut dapat berjalan di permukaan datar, mengikuti gerakan manusia melalui kamera, serta bangkit kembali setelah terjatuh dalam posisi telungkup.
Smartphone menjalankan beberapa fungsi utama selama robot beroperasi. Kamera membantu sistem mengenali dan melacak manusia, sedangkan sensor gerak membaca perubahan posisi serta orientasi tubuh.
Selanjutnya, prosesor ponsel menjalankan perangkat lunak untuk menghitung gerakan robot. Melalui koneksi Wi-Fi, smartphone mengirimkan perintah kepada komputer kecil yang mengatur kerja motor.
Empat Smartphone Android Mendukung Eksperimen
Tim peneliti menguji PhoneBot menggunakan empat perangkat Android, yaitu Honor 9 keluaran 2017, Moto G 2024, Moto G 2025, dan Samsung Galaxy A16 5G.
Pengujian tersebut menunjukkan bahwa berbagai generasi smartphone dapat menjalankan fungsi inti robot. Fungsi itu mencakup pemrosesan visual dasar, pembacaan sensor gerak, dan pengendalian langkah.
Namun, kemampuan setiap ponsel tidak sepenuhnya sama. Honor 9, misalnya, tidak mendukung fitur pemetaan tertentu dalam konfigurasi pengujian karena keterbatasan layanan Google.
Hasil ini memperlihatkan bahwa pengembang tidak selalu membutuhkan smartphone flagship untuk membangun robot penelitian. Meski demikian, mereka tetap perlu memperhatikan kompatibilitas perangkat lunak, kualitas sensor, dan kemampuan prosesor.
Berapa Biaya Membuat Robot PhoneBot?
Tim peneliti memperkirakan biaya perangkat keras PhoneBot sekitar US$400 atau kurang lebih Rp6,7 juta, bergantung pada nilai tukar. Estimasi tersebut belum mencakup smartphone yang menjadi bagian dari sistem robot.
Komponen utama mencakup rangka mekanis, motor penggerak, dan perangkat elektronik pendukung. Penggunaan smartphone membantu mengurangi kebutuhan komputer pemrosesan dan sejumlah sensor khusus.
Meski demikian, calon pengembang tetap perlu memperhitungkan biaya perakitan, pengujian, dan pengembangan perangkat lunak. Angka tersebut juga bukan harga jual resmi untuk konsumen.
PhoneBot Masih Memiliki Keterbatasan
PhoneBot belum mampu melakukan seluruh pekerjaan seperti robot humanoid komersial. Robot ini belum memiliki lengan untuk mengambil benda, sementara sistem berjalan utamanya berfokus pada permukaan datar.
Tangga, tanjakan, dan medan tidak rata juga menghadirkan tantangan tersendiri. Selain itu, kemampuan motor membatasi beban yang dapat dibawa serta intensitas gerakan robot.
Tim pengembang ingin meningkatkan kemampuan berjalan di berbagai medan dan menambahkan lengan ringan untuk memanipulasi benda. Pengembangan tersebut berpotensi memperluas penggunaan PhoneBot dalam eksperimen robotika.
Smartphone Lama Bisa Membuka Peluang Baru
PhoneBot mengusung pendekatan open-source yang memberi peluang bagi mahasiswa, pengajar, dan peneliti untuk mempelajari sistem robotika. Mereka dapat mengembangkan eksperimen sendiri tanpa harus merancang seluruh sistem pemrosesan dari awal.
Pendekatan ini juga menawarkan alternatif pemanfaatan perangkat elektronik lama. Smartphone yang sudah jarang digunakan dapat menjalankan fungsi baru sebagai pusat kendali robot, selama perangkat tersebut memenuhi kebutuhan teknis.
Pada akhirnya, PhoneBot menunjukkan bagaimana pengembang dapat menggabungkan perangkat elektronik sehari-hari dengan teknologi robotika. Walaupun masih berupa prototipe, konsep ini membuka peluang pembelajaran yang lebih terjangkau sekaligus memperluas pemanfaatan smartphone Android bekas.










