BACAAKU.COM – Kesehatan mental remaja menjadi perhatian serius di Indonesia. Tekanan sekolah, hubungan sosial, perubahan kehidupan, hingga tuntutan dari lingkungan dapat memengaruhi kondisi psikologis anak muda.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022. Kemenkes juga mencatat gejala kecemasan dan depresi pada anak usia sekolah dan remaja hampir lima kali lebih tinggi dibanding kelompok dewasa dan lansia.
Tekanan Sekolah dan Lingkungan
Masa remaja membawa banyak perubahan. Anak mulai menghadapi tuntutan akademik, hubungan pertemanan, pencarian jati diri, serta harapan dari keluarga dan lingkungan.
Tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat sebagian remaja merasa kewalahan. Kondisi tersebut bisa memengaruhi suasana hati, konsentrasi, pola tidur, hingga aktivitas sehari-hari.
Pengaruh Media Sosial
Media sosial juga dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja. Paparan konten secara terus-menerus dapat membuat anak membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain.
Komentar negatif, perundungan daring atau cyberbullying, serta tekanan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan digital juga dapat menambah beban psikologis.
Namun, penggunaan media sosial bukan satu-satunya penyebab gangguan mental. Kondisi setiap remaja berbeda dan dapat melibatkan berbagai faktor.
Data CKG Tunjukkan Masalah yang Perlu Diwaspadai
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak dari sekitar 7 juta anak yang menjalani skrining.
Kemenkes mencatat sekitar 338 ribu anak atau 4,4 persen menunjukkan gejala kecemasan. Sementara itu, sekitar 363 ribu anak atau 4,8 persen menunjukkan gejala depresi.
Data tersebut menunjukkan pentingnya deteksi lebih awal. Semakin cepat keluarga dan sekolah mengenali perubahan perilaku anak, semakin cepat pula mereka dapat mencari bantuan yang sesuai.
Kenali Perubahan Perilaku
Orang tua dan guru perlu memperhatikan perubahan yang berlangsung terus-menerus. Beberapa tanda yang perlu mendapat perhatian antara lain anak sering menarik diri, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, mengalami perubahan pola tidur, sulit berkonsentrasi, atau menunjukkan perubahan suasana hati yang cukup signifikan.
Kemenkes mengingatkan bahwa masalah kesehatan mental sering kali tidak terlihat secara fisik. Karena itu, lingkungan sekitar perlu lebih peka terhadap perubahan yang terjadi pada remaja.
Jangan Takut Mencari Bantuan
Remaja yang mengalami masalah psikologis tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Orang tua dapat membuka percakapan dengan cara yang tenang dan tidak menghakimi.
Jika masalah berlangsung terus-menerus atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, keluarga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau layanan kesehatan jiwa.
Kemenkes juga mendorong masyarakat melakukan skrining kesehatan jiwa minimal satu kali dalam setahun sebagai langkah deteksi dini.
Menjaga kesehatan mental remaja membutuhkan dukungan bersama. Keluarga, sekolah, teman dan tenaga kesehatan memiliki peran penting untuk menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman, didengar dan tidak sendirian.










