BACAAKU.COM – Bullying atau perundungan pada anak tidak boleh dianggap sebagai masalah sepele. Selain menimbulkan luka fisik, perundungan dapat memengaruhi kesehatan mental dan membuat anak mengalami kecemasan, stres, hingga kehilangan rasa percaya diri.
Bullying dapat muncul dalam berbagai bentuk. Pelaku bisa melakukan kekerasan fisik, mengejek, menghina, mengancam, mengucilkan korban, atau menyebarkan informasi yang mempermalukan seseorang. Perkembangan media sosial juga membuka ruang bagi cyberbullying yang dapat berlangsung kapan saja.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa bullying dapat memberikan dampak terhadap kesehatan mental anak, termasuk meningkatkan risiko kecemasan, depresi, stres, gangguan tidur, dan rendahnya rasa percaya diri.
Anak Bisa Kehilangan Rasa Percaya Diri
Perundungan yang berlangsung berulang dapat memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri. Ejekan dan penghinaan terus-menerus dapat membuat anak merasa tidak berharga atau berbeda dari lingkungan sekitarnya.
Kondisi tersebut juga dapat membuat anak memilih untuk menarik diri. Mereka mungkin enggan bergaul, takut berbicara di depan orang lain, atau menghindari tempat yang mempertemukan mereka dengan pelaku.
Bullying Bisa Memicu Kecemasan dan Depresi
Tekanan akibat bullying dapat membuat anak merasa takut dan tidak aman. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, anak bisa mengalami masalah emosional yang lebih serius.
WHO menyebut bullying sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental pada remaja. Lingkungan yang penuh kekerasan, tekanan sosial, serta pengalaman buruk lainnya juga dapat memengaruhi kesehatan mental anak.
Namun, tidak semua anak mengalami dampak yang sama. Kondisi keluarga, lingkungan sosial, dukungan dari orang terdekat, serta pengalaman pribadi dapat memengaruhi respons setiap anak.
Prestasi Belajar Bisa Ikut Terganggu
Bullying juga dapat memengaruhi kehidupan sekolah. Anak yang merasa takut atau tidak nyaman mungkin kesulitan berkonsentrasi saat mengikuti pelajaran.
Sebagian anak bahkan mulai enggan pergi ke sekolah. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, motivasi belajar dan prestasi akademik juga dapat ikut menurun.
Orang tua dan guru perlu memperhatikan perubahan tersebut, terutama jika muncul bersamaan dengan perubahan perilaku lainnya.
Kenali Tanda-Tanda pada Anak
Tidak semua anak berani menceritakan pengalaman bullying kepada orang tua. Sebagian anak memilih diam karena merasa malu, takut atau khawatir keadaan akan menjadi lebih buruk.
Orang tua perlu memperhatikan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Beberapa tanda yang patut mendapat perhatian antara lain:
- Anak tiba-tiba enggan pergi ke sekolah.
- Anak lebih sering menyendiri.
- Suasana hati berubah secara drastis.
- Anak mengalami gangguan tidur.
- Anak kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.
- Anak mengalami penurunan konsentrasi dan prestasi belajar.
- Anak terlihat cemas atau takut ketika membahas sekolah maupun teman tertentu.
Tanda-tanda tersebut tidak selalu menunjukkan bullying. Namun, perubahan yang berlangsung terus-menerus dapat menjadi alasan bagi orang tua untuk mengajak anak berbicara.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Ketika anak menceritakan pengalaman bullying, orang tua perlu mendengarkan dengan tenang. Hindari menyalahkan anak atau mengatakan bahwa masalah tersebut hanya bagian dari kehidupan sekolah.
Orang tua dapat menanyakan apa yang terjadi, kapan peristiwa berlangsung dan siapa saja yang terlibat. Jika bullying terjadi melalui media sosial, simpan pesan, foto atau rekaman yang dapat menjadi bukti.
Orang tua juga dapat berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk mencari solusi dan memastikan keamanan anak.
Jika pengalaman bullying mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau kondisi emosional anak, orang tua dapat mencari bantuan dari psikolog, konselor atau tenaga kesehatan.
Sekolah Punya Peran Penting
Sekolah juga perlu menciptakan lingkungan yang aman bagi seluruh siswa. Guru dapat membantu dengan memberikan edukasi tentang bullying, membuka saluran pelaporan dan merespons laporan siswa secara serius.
Pencegahan tidak hanya berfokus pada korban. Sekolah juga perlu memberikan edukasi kepada siswa mengenai dampak perundungan serta membangun budaya saling menghargai.
Bullying bukan sekadar persoalan antara anak dengan anak. Perundungan dapat memengaruhi kesehatan mental, pendidikan dan hubungan sosial anak.
Karena itu, orang tua, guru dan lingkungan sekitar perlu bekerja sama untuk mencegah bullying dan memberikan dukungan ketika seorang anak mengalami perundungan.










