BACAAKU.COM – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga mengancam kesehatan mata. Paparan partikel asap dapat memicu mata merah, perih, gatal, hingga kering. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengenali gejalanya sejak dini agar iritasi tidak semakin parah.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak karhutla untuk melindungi mata dari paparan asap. Selain itu, dokter spesialis mata menjelaskan bahwa paparan asap, debu, dan angin secara terus-menerus dapat memicu peradangan serta mengganggu lapisan air mata. Akibatnya, mata lebih mudah terasa kering dan tidak nyaman.
Mengapa Kabut Asap Bisa Membuat Mata Perih?
Mata memiliki lapisan air mata yang berfungsi menjaga kelembapan dan melindungi permukaannya. Namun, ketika seseorang terpapar kabut asap, partikel dan gas pencemar dapat mengganggu lapisan tersebut.
Akibatnya, mata bisa terasa panas, perih, gatal, atau seperti kemasukan pasir. Selain menimbulkan iritasi, paparan yang berlangsung berulang juga dapat memicu peradangan pada permukaan mata. Bahkan, gangguan pada lapisan air mata dapat meningkatkan risiko mata kering.
Menurut edukasi kesehatan dari RSUP Dr. M. Djamil Padang, masyarakat perlu mewaspadai gejala tersebut ketika kualitas udara memburuk. Karena itu, jangan menunggu keluhan semakin berat sebelum melakukan perlindungan mata.
Kenali Gejala Iritasi Mata Akibat Kabut Asap
Gejala iritasi mata dapat berbeda pada setiap orang. Meski demikian, ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan, terutama setelah beraktivitas di lingkungan berasap.
- Mata merah: Permukaan mata tampak kemerahan akibat iritasi.
- Mata perih dan panas: Mata terasa terbakar atau tidak nyaman ketika terkena asap.
- Mata gatal: Rasa gatal dapat memicu keinginan untuk mengucek mata.
- Mata berair: Mata menghasilkan lebih banyak air mata sebagai respons terhadap iritan.
- Sensasi mengganjal: Mata terasa seperti kemasukan debu atau pasir.
- Penglihatan buram: Dalam kondisi tertentu, iritasi dapat disertai gangguan penglihatan.
Jika mengalami gejala tersebut, segera menjauh dari sumber asap. Selanjutnya, lakukan langkah pertolongan awal yang aman dan pantau apakah keluhan mulai mereda.
Kelompok Ini Perlu Lebih Waspada
Pada dasarnya, siapa pun bisa mengalami iritasi mata akibat kabut asap. Namun, beberapa kelompok perlu memberikan perhatian lebih terhadap perlindungan mata.
Kelompok tersebut meliputi anak-anak, lansia, pekerja luar ruangan, pengguna lensa kontak, serta orang yang memiliki riwayat mata kering atau alergi mata. Selain itu, pasien yang baru menjalani operasi mata perlu mengikuti petunjuk dokter untuk menghindari gangguan selama masa pemulihan.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak karhutla, pemantauan kualitas udara juga penting. Dengan mengetahui kondisi udara, masyarakat dapat mengatur kegiatan harian dan mengurangi paparan yang tidak diperlukan.
Lima Cara Melindungi Mata Saat Kabut Asap
Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko iritasi mata. Berikut cara yang bisa diterapkan selama kualitas udara memburuk.
1. Batasi aktivitas di luar ruangan
Pertama, kurangi kegiatan di luar rumah ketika kabut asap semakin pekat. Jika harus bepergian, gunakan kacamata yang menutup area mata dengan baik agar paparan langsung dapat berkurang.
2. Jangan mengucek mata
Ketika mata terasa gatal atau perih, hindari menguceknya. Sebab, gesekan dapat memperburuk iritasi pada permukaan mata. Sebaliknya, cuci tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh area sekitar mata.
3. Bilas mata dengan cara yang aman
Jika partikel asap masuk ke mata dan menimbulkan rasa tidak nyaman, bilas menggunakan air bersih yang mengalir secara lembut atau larutan saline steril yang sesuai. Namun, jangan menggunakan bahan tradisional seperti air sirih maupun bahan lain yang belum terbukti aman untuk mata.
4. Gunakan kacamata sebagai pelindung
Selain membantu mengurangi paparan partikel, kacamata dapat menjadi pilihan yang lebih nyaman bagi pengguna lensa kontak selama kondisi udara buruk. Sementara itu, masker yang memiliki kemampuan filtrasi baik dapat membantu mengurangi paparan partikel melalui saluran pernapasan.
5. Kurangi masuknya asap ke dalam rumah
Selanjutnya, tutup jendela dan pintu ketika udara luar dipenuhi asap. Jika tersedia, gunakan penyaring udara dalam ruangan. Dengan demikian, paparan asap di dalam rumah dapat dikurangi.
Kapan Harus ke Dokter?
Sebagian keluhan iritasi dapat mereda setelah seseorang menjauh dari asap dan membersihkan mata dengan benar. Meski begitu, masyarakat tidak boleh mengabaikan gejala yang berat atau menetap.
Segera cari pertolongan medis jika mata terasa sangat sakit, penglihatan menurun, atau mata menjadi sangat sensitif terhadap cahaya. Selain itu, pemeriksaan diperlukan apabila mata tampak sangat merah atau keluhan tidak kunjung membaik.
Hindari pula penggunaan obat tetes mata secara sembarangan. Terlebih lagi, obat yang mengandung antibiotik atau steroid sebaiknya digunakan berdasarkan petunjuk tenaga medis.
Jangan Abaikan Kesehatan Mata Saat Kabut Asap
Kabut asap merupakan persoalan kualitas udara yang dampaknya tidak terbatas pada sistem pernapasan. Sebaliknya, permukaan mata juga dapat mengalami iritasi akibat kontak langsung dengan partikel dan gas pencemar.
Oleh sebab itu, masyarakat perlu melindungi mata sejak sebelum keluhan muncul. Batasi aktivitas di luar ruangan, gunakan pelindung yang sesuai, dan jangan mengucek mata ketika terasa perih.
Pada akhirnya, kewaspadaan dan tindakan sederhana dapat membantu mengurangi risiko gangguan mata selama kabut asap berlangsung. Jika keluhan terasa berat atau penglihatan berubah, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.










