Beranda / Health / Waspada Optic Neuritis, Peradangan Saraf Mata yang Bisa Mengganggu Penglihatan

Waspada Optic Neuritis, Peradangan Saraf Mata yang Bisa Mengganggu Penglihatan

Optic Neuritis

BACAAKU.COM – Gangguan penglihatan tidak selalu berasal dari kerusakan bola mata. Dalam sejumlah kasus, peradangan justru menyerang saraf optik yang menghubungkan mata dengan otak. Kondisi medis ini dikenal sebagai optic neuritis atau neuritis optik.

Penyakit tersebut dapat menyebabkan penglihatan kabur, warna terlihat memudar, hingga penurunan kemampuan melihat dalam waktu relatif singkat. Karena itu, masyarakat perlu mengenali gejalanya sejak dini agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

Apa Itu Optic Neuritis?

Optic neuritis merupakan peradangan pada saraf optik. Saraf ini membawa informasi visual dari retina menuju otak sehingga manusia dapat melihat objek di sekitarnya.

Ketika peradangan menyerang saraf tersebut, proses pengiriman informasi visual dapat terganggu. Akibatnya, penderita mengalami penurunan kualitas penglihatan pada satu mata atau, dalam kondisi tertentu, kedua mata.

Gejala Awal yang Perlu Diwaspadai

Penderita optic neuritis dapat mengalami gejala yang berkembang selama beberapa jam hingga beberapa hari.

Berikut sejumlah tanda yang perlu mendapat perhatian:

  • Penglihatan mendadak kabur atau berkurang.

  • Nyeri ketika menggerakkan bola mata.

  • Warna terlihat lebih kusam, terutama warna merah.

  • Muncul titik gelap pada bagian tengah penglihatan.

  • Kesulitan melihat objek dengan jelas.

Pada sebagian pasien, gangguan penglihatan dapat memburuk dalam beberapa hari sebelum mencapai kondisi terparah.

Gangguan Autoimun dan Infeksi Bisa Menjadi Penyebab

Sejumlah kondisi dapat memicu peradangan saraf optik. Salah satunya adalah gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringan saraf.

Beberapa penyakit yang memiliki hubungan dengan optic neuritis antara lain Multiple Sclerosis (MS), Neuromyelitis Optica Spectrum Disorder (NMOSD), dan Myelin Oligodendrocyte Glycoprotein Antibody-Associated Disease (MOGAD).

Selain itu, infeksi tertentu seperti tuberkulosis dan sifilis juga dapat menyebabkan peradangan pada saraf optik.

Meski demikian, dokter tidak selalu menemukan penyebab khusus pada setiap penderita.

Dokter Gunakan MRI dan Tes Darah untuk Memastikan Diagnosis

Dokter tidak hanya memeriksa kondisi mata ketika menangani dugaan optic neuritis. Pemeriksaan juga dapat melibatkan sistem saraf untuk mengetahui sumber peradangan.

Beberapa metode pemeriksaan yang dapat digunakan meliputi:

  1. MRI otak dan rongga mata, untuk melihat kemungkinan peradangan saraf optik serta kelainan pada sistem saraf.

  2. Optical Coherence Tomography (OCT), untuk menilai struktur lapisan saraf retina.

  3. Tes darah, untuk membantu mendeteksi kemungkinan infeksi atau gangguan autoimun.

  4. Tes antibodi AQP4 dan MOG, untuk membantu mengidentifikasi NMOSD dan MOGAD.

Dokter menentukan pemeriksaan berdasarkan gejala dan kondisi setiap pasien.

Penanganan Bergantung pada Penyebab Peradangan

Pengobatan optic neuritis bergantung pada faktor yang memicu peradangan. Pada kasus tertentu, dokter memberikan kortikosteroid untuk mempercepat pemulihan penglihatan.

Namun, apabila infeksi menjadi penyebabnya, dokter perlu memberikan terapi yang sesuai dengan jenis infeksi tersebut. Sementara itu, pasien dengan gangguan autoimun mungkin membutuhkan pengobatan khusus untuk mengendalikan aktivitas sistem kekebalan tubuh.

Pasien tidak boleh menggunakan obat steroid tanpa arahan dokter karena obat tersebut dapat memperburuk infeksi tertentu.

Penurunan Penglihatan Mendadak Jangan Diabaikan

Optic neuritis membutuhkan pemeriksaan medis karena peradangan saraf optik dapat berkaitan dengan penyakit lain yang menyerang sistem saraf.

Jika seseorang mengalami penurunan penglihatan secara mendadak, nyeri saat menggerakkan mata, atau perubahan warna yang semakin jelas, segera kunjungi dokter spesialis mata atau instalasi gawat darurat.

Deteksi dan penanganan sejak dini membantu dokter menentukan penyebab serta mengurangi risiko gangguan penglihatan yang lebih berat.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *