BACAAKU.COM – Malaria masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina terinfeksi ini dapat menyebabkan komplikasi serius jika penderita terlambat mendapatkan pengobatan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 346.866 kasus malaria di Indonesia hingga Juli 2026. Pemerintah terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tersebut untuk mencapai target Indonesia Bebas Malaria 2030.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan pentingnya kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Hingga Juli 2026, sebanyak 414 kabupaten/kota atau sekitar 94,1 persen dari target tahun tersebut telah mencapai status eliminasi malaria.
Meski demikian, eliminasi di sejumlah daerah belum berarti seluruh Indonesia bebas dari risiko malaria. Masyarakat tetap perlu mengenali gejala dan melakukan pencegahan, terutama ketika tinggal atau bepergian ke wilayah endemis. <Cite refs={[“turn718199search2″,”turn718199search6”]}/>
Kenali Gejala Malaria Sejak Dini
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang masuk ke tubuh melalui gigitan nyamuk terinfeksi. Gejala awal biasanya muncul sekitar 10–15 hari setelah gigitan, meskipun waktunya dapat berbeda.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gejala malaria yang umum meliputi:
- Demam.
- Menggigil.
- Sakit kepala.
- Nyeri otot dan tubuh terasa lemas.
- Mual atau muntah pada sebagian penderita.
Gejala tersebut dapat menyerupai penyakit lain. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mendiagnosis malaria hanya berdasarkan demam atau menggigil.
Pemeriksaan darah melalui mikroskop atau tes diagnostik cepat dapat membantu memastikan infeksi. Jika mengalami demam setelah bepergian atau tinggal di wilayah endemis, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Sampaikan riwayat perjalanan kepada petugas medis. <Cite refs={[“turn718199search0″,”turn718199search14”]}/>
Waspadai Malaria Berat
Malaria dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa apabila tidak segera ditangani. Beberapa tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera antara lain:
- Kesadaran menurun atau kebingungan.
- Kejang.
- Kesulitan bernapas.
- Tubuh sangat lemah.
- Urine berwarna gelap atau berdarah.
- Kulit atau bagian putih mata menguning.
Anak-anak berusia di bawah lima tahun dan ibu hamil termasuk kelompok yang berisiko mengalami komplikasi serius. Namun, orang dewasa juga dapat mengalami malaria berat.
WHO mengingatkan bahwa malaria akibat parasit Plasmodium falciparum dapat berkembang cepat. Oleh sebab itu, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis ketika muncul gejala yang mencurigakan. <Cite refs={[“turn718199search0″,”turn718199search4”]}/>
Cara Mencegah Penularan Malaria
Pencegahan malaria berfokus pada perlindungan dari gigitan nyamuk dan pengendalian lingkungan. Berikut langkah yang dapat dilakukan masyarakat:
1. Gunakan kelambu saat tidur. Pilih kelambu berinsektisida jika tersedia, khususnya di wilayah endemis.
2. Oleskan losion antinyamuk. Gunakan produk sesuai petunjuk pada label.
3. Kenakan pakaian tertutup. Baju berlengan panjang dan celana panjang dapat membantu mengurangi paparan gigitan nyamuk.
4. Pasang kasa pada jendela dan pintu. Langkah ini membantu mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah.
5. Segera periksa jika mengalami demam. Jangan menunda pemeriksaan, terutama setelah beraktivitas di daerah endemis malaria.
Masyarakat yang berencana bepergian ke wilayah berisiko juga sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai langkah pencegahan yang sesuai. <Cite refs={[“turn718199search0″,”turn718199search14”]}/>
Indonesia Targetkan Bebas Malaria pada 2030
Pemerintah terus mempercepat eliminasi malaria melalui deteksi dini, pengobatan kasus terkonfirmasi, pengendalian nyamuk, serta kerja sama lintas sektor.
Kemenkes juga mendorong daerah yang telah mencapai eliminasi untuk mempertahankan status tersebut. Sementara itu, daerah yang masih menghadapi penularan perlu memperkuat surveilans dan penanganan kasus.
Malaria dapat dicegah dan disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Namun, keterlambatan diagnosis dapat meningkatkan risiko komplikasi. Karena itu, masyarakat perlu mengenali gejalanya dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami demam setelah terpapar risiko penularan.
Upaya menuju Indonesia Bebas Malaria 2030 membutuhkan dukungan semua pihak. Menjaga diri dari gigitan nyamuk dan melakukan pemeriksaan sejak dini menjadi langkah penting untuk melindungi keluarga.










